Headlines News :
Home » » Gerakan Anti Wall Street Mendunia, Bagaimana Indonesia?

Gerakan Anti Wall Street Mendunia, Bagaimana Indonesia?

Written By ASEP KUMIS on Selasa, 18 Oktober 2011 | 10/18/2011 03:40:00 AM

NEW YORK  – Gerakan anti- Wall Street yang dikenal dengan Duduki Wall Street (Occupy Wall Street/OWS) mendunia. Aksi unjuk rasa mereka, yang awalnya memprotes keserakahan korporasi global di Amerika Serikat (AS), menginspirasi gerakan serupa di berbagai negara, mulai dari Eropa hingga Asia.
Di Roma, Italia, aksi demonstrasi berujung kerusuhan. Demonstran merusak kantor bank serta membakar mobil dan gedung militer, Sabtu (15/10) waktu setempat. Polisi anti-huru-hara berusaha menenangkan masa, tetapi para demonstran justru semakin panas.“ Hari ini (kemarin) hanya sebagai awal, kita akan melanjutkan gerakan global ini,” kata Andrea Muraro (24) mahasiswa yang ikut berdemonstrasi.
Perdana Menteri Italia Silvio Berlusconi mengecam aksi demonstrasi yang berujung kekerasan. “Kerusuhan ini sangat mengkhawatirkan bagi kehidupan warga sipil,” katanya. Kerusuhan akibat demonstrasi di Roma ini merupakan yang terparah dengan 70 orang terluka, 3 di antaranya dalam kondisi serius. Gerakan anti-Wall Street ini bermula di New York pada 17 September lalu. Mereka membawa pesan antikapitalis serta menyuarakan kekecewaan terhadap tingginya jumlah pengangguran dan lambatnya pemulihan ekonomi.
Awalnya, aksi hanya diikuti sekelompok kecil aktivis, tetapi belakangan terus meluas dan melibatkan banyak orang dengan beragam latar belakang. Gerakan Duduki Wall Street menargetkan aksi mereka bakal diikuti massa dari 951 kota di 82 negara, tersebar dari Amerika, Eropa hingga Asia.
Di Madrid, Spanyol, aksi unjuk rasa berlangsung meriah. Aksi diikuti puluhan ribu orang dari berbagai latar belakang ekonomi. Itu merupakan unjuk kekuatan terbesar yang dilakukan sebuah gerakan di Taman Puerta del Sol, Madrid. Mereka mengekspresikan kemarahan atas peningkatan pengangguran dan menolak keberpihakan pemerintah terhadap pemilik modal.
Di Portugal, 50.000 orang ikut berdemonstrasi. “Kita adalah korban skandal spekulasi finansial.Kita harus mengubah akar sistem ini,” ujar Mathieu Rego (25) peserta demonstrasi. Gubernur Bank Sentral Italia, Mario Draghi, yang juga mantan eksekutif di raksasa Wall Street, Goldman Sachs, memahami aksi demonstrasi yang terjadi di berbagai negara. “Anakmuda memiliki hak untuk marah,” katanya dalam pertemuan keuangan G-20 di Paris. “Mereka marah terhadap dunia keuangan. Saya pahammereka.”
Aksi protes juga terjadi di Amsterdam,Athena, Brussels, Jenewa, Paris, Sarajevo, dan Zurich. Di Toronto, Kanada, 5.000 orang berdemonstrasi di distrik keuangan di kota itu. Mereka juga mendirikan tenda di taman kota. Kota London, Inggris, juga memanas. Polisi London telah menahan lima orang yang menggelar demonstrasi di Katedral St Paul. Tiga di antaranya ditahan karena menyerang polisi, sementara dua lagi melanggar ketertiban umum. BBC melaporkan 3.000 orang ikut dalam protes ini. Aksi serupa juga digelar di Bristol,Birmingham, Glasgow,dan Edinburgh.
Para aktivis dalam aksi protes ini membawa spanduk bertuliskan “Kita ini 99%” serta “Bankir ditalangi,kita yang dihabisi”. Julian Assange, pendiri Wikileaks, sebelumnya turut memberi pidato di depan sekelompok demonstran. Dengan pengawalan ketat, Assange menegaskan dukungan terhadap “Duduki London”. “Sistem perbankan di London merupakan penerima uang korupsi,” katanya. Menteri Luar Negeri Inggris William Hague bersimpati atas aksi warga yang memprotes permasalahan ekonomi global.
“Itu benar bahwa banyak hal yang dihadapi dunia Barat dan terlalu banyak utang dimiliki oleh negara dan didukung dengan sistem bank yang telanjur rusak,” katanya seperti dikutip Reuters. Namun, menurut Hague, aksi demonstrasi bukan jawabannya. “Jawabannya adalah pemerintah harus mengontrol utang mereka. Saya khawatir demonstrasi di jalanan tidak akan menyelesaikan masalah,” tegasnya.
Adapun di New York, AS, puluhan demonstran ditangkap polisi kemarin. Sebagian ditangkap di Times Square, sedangkan lainnya ditahan karena akan memasuki kantor cabang Citibank. Lima demonstran yang memakai topeng ditahan di tempat lain. Polisi sempat kesulitan menangkap para demonstran karena mereka bercampur-baur dengan para turis. “Sepanjang hari, sepanjang pekan, duduki Wall Street,” demikian teriakan para demonstran. Setidaknya terdapat 5.000 orang yang terlibat dalam aksi tersebut.
Mereka melakukan aksi unjuk rasa dengan berjalan melintasi Zanotti Park menuju Times Square. “Kami hancur, bank justru dapat dana talangan,” teriak para demonstran. Mereka juga berjalan ke arah Chase Bank demi mendukung 14.000 para pekerja yang dipecat setelah pemerintah mengucurkan dana talangan sebesar USD94,7 miliar. Para mahasiswa,aktivis serikat pekerja berdemonstrasi membawa spanduk bertuliskan “Kita adalah 99%”, “Kita adalah rakyat”, dan “Obama, kita butuh dukunganmu”.
Aksi itu tidak hanya berlangsung di kawasan Times Square, New York, tetapi juga di sejumlah kota lain seperti Los Angeles dan Pittsburgh yang diikuti ribuan orang. Di Washington, sebanyak 3.000 demonstran berkumpul di National Mall.“Kita telah memberikan dana talangan ke Wall Street. Saat ini adalah waktunya memberikan dana talangan bagi para pekerja Amerika,” kata Martin Luther King III, putra pejuang hak asasi manusia Martin Luther King, di tengah kerumunan demonstran seperti dikutip AFP.“Saya percaya jika ayah saya masih hidup, dia akan berdiri di sini bersama kita untuk ikut berdemonstrasi hari ini.”
Di Miami, sedikitnya 1.000 warga menggelar demonstrasi. Mereka terdiri atas pemuda, pensiunan, dan korban pemutusan hubungan kerja. Mereka menentang ketamakan perusahaan, bank, dan perang. Aktor Hollywood Sean Penn menjadi selebritas yang mendukung aksi itu. “Saya mendukung semangat yang terjadi saat ini di Wall Street,” katanya kepada CNN.
Asia Turut Memanas
Aksi anti-Wall Street juga menginspirasi para aktivis di Asia untuk menggelar aksi demonstrasi. Di Hong Kong, demonstrasi digelar meski tidak banyak orang yang ikut aksi itu. “Banyak orang tidak ikut ambil bagian dalam aksi ini karena krisis ekonomi belum mencapai Hong Kong saat ini,” ujar aktivis sayap kiri Napo Wong Weng-chi. Menurutnya, kondisi ekonomi Hong Kong tidak seburuk AS dan Eropa. Sementara di Kuala Lumpur, 200 orang ikut dalam aksi yang mengecam ketamakan korporasi.
“Warga yang ikut aksi masih sedikit karena mereka belum tahu bahwa kita menggelar demonstrasi di sini.Masih kurangnya publikasi menjadi penyebab,” kata Fahmi Reza (34) dari Dewan Rakyat Kuala Lumpur, sebuah organisasi sosial. Beberapa demonstran mengusung spanduk bertuliskan “Duduki Dataran”.Aksi itu dibayangi kekerasan oleh aparat keamanan Malaysia yang kerap bertindak keras jika ada aksi demonstrasi. “Anti-kapitalisme bukan penyebab saya ikut aksi ini, tetapi antiotoriter menyebabkan saya sebagai warga menyuarakan hak-hak,” kata Wong Chin Huat, 38, seorang dosen yang ikut aksi itu.
Dari Singapura, seorang yang tidak dikenal membuat akun Facebook dan Twitter yang menyerukan kepada warga Singapura untuk memprotes ketidakadilan pendapat dan kurangnya akuntabilitas dana kekayaan negara. Dalam pesan di situs sosial media itu, mereka menyerukan aksi demonstrasi pada hari ini. Namun, Singapura melarang demonstrasi dan pertemuan tanpa izin.
Jika kita melihat kondisi masyarakat dunia yang mulai marah dan bangkit melawan kezhaliman system ekonomi kapitalis, maka bagaimana dengan penduduk di negeri ini? Bukankah seharusnya masyarakat Indonesia dengan mayoritas muslim terbesar di dunia justru lebih wajib melawan system kapitalis dan menggantinya dengan system Islam?


sumber
Share this article :
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Copas 4 Islam - All Rights Reserved
Template Design by Creating Website Published by Mas Template